Senin, 12 November 2012

PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING


Pengertian prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
Prinsip berasal dari kata “prinsipra” yang artinya permulaan dengan cara tertentu yang melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya bergantung  pada pemula itu. Prinsip bimbingan dan konseling menguraikan pokok-pokok dasar pemikiran yang  dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanaan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai perngkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanann program pelayanan bimbinngan dan konseling di sekolah.
Prayitno mengatakan,” prinsip merupakan hasil kajian teoritis dan telah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanan sesuatu yang dilaksanakan”. Berkenaan dengan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, Arifin dan Ertikawati (1994) menjabarkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling  kedalam empat bagian, yaitu:
  1. Prinsi-prinsip umum 
  2. Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu 
  3. Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan pembingbing, dan 
  4. Prinsinp-prinsip khusus yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi bimbingan dan konseling.

1)      Prinsip-Prinsip Umum
  • Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbingnya . 
  • Bimbingan diarahkan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan mengadapi kesulitan-kesulitan -kesulitan yang dihadapinya. 
  • Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan indvidu (siswa) yang dibimbing. Antara individu yang satu dengan yang lainnya berbeda. Demikian juga dengan kebutuhannya, oleh sebab itu, pembingbing harus memahami perbedaan kebutuhan tersebut agar bisa memberikan bantuan (bimbingan) sesuai kebutuhan individu. 
  • Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu. Bimbingan dan konseling diberikan kepada individu dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku  individu kearah yang lebih baik. 
  • Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu yang dibimbing. 
  • Upaya pemberian bantuan (pelayanan bimmbingan dan konseling )  harus dilakukan secara fleksibel (tidak kaku). Artinya harus bisa menyesuaikan dengan kondisi. 
  • Program bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan pembelajaran di sekolah atau madrasah yang bersangkutan. 
  • Implementasi program bimbingan dan konseling harus dipimpin  oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pelaksananya harus bekerja sama dengan berbagai pihak yang terkait seperti dokter, psikiater, dan lain-lain. 
  • Untuk mengetahiui hasil-hasil yang diperoleh dari upaya pelayanaan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian atau evaluasi secara teratur  dan berkesinambungan.

2)      Prinsip-perinsip khusus yang berhubungan dengan individu (siswa)
  • Pelayanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada semua siswa. Artinya semua siswa baik yang memilki masalah sederhana hingga yang kompleks perlu dibantu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. 
  • Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau siswa. 
  • Program pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa. 
  • Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu (siswa) yang bersangkutan beragam dan luas. 
  • Keputusan akhir dalam proses bimbingan dan konseling dibentuk oleh individu atau siswa  itu sendiri. 
  • Individu atau siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya sendiri.
3)      Prinsip khusus yang berhubungan dengan pembimbing
  • Pembimbing atau konselor harus melakukan tugas sesuai  dengan kemampuannya masing-masing. 
  • Pembimbing atau konselor disekolah atau madrasah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya. 
  • Sebagai tuntunan profesi, pembimbing atau konselor  harus senantiasa berusaha mengembangkan diri dan keahliannya melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, penataran, work shop, dan sebagainya. 
  • Pembimbing atau konselor hendaknya selalu mempergunakan berbagai imformasi yang tersedia  tentang individu atau siswa yang dibimbing beserta lingkungannya sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan kearah penyesuaian diri yang lebih baik. 
  • Pembimbing atau konselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan imformasi tentang individu atau siswa yang dibimbingnya.. 
  • Pembimbing atau konselor dalam melaksanakan tugas-tugasnya hendaknya mempergunakan berbagai metode dan teknik.
4)      Prinsip yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi (manajemen) pelayanan 
          bimbingan dan konseling
  • Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistemmatis dan berkelanjutan. 
  • Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus ada di  kartu pribadi (cumulative record) bagi setiap siswa. 
  • Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah atau madrsah. 
  • Harus ada pembagian waktu antar pembingbing, sehingga masing-masing pembingbing mendapat kesempatan yang sama dalam meamberikan bimbingaan dan konseling. 
  • Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok  sesuai dengan masalah yang dipecahkan dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah terkait. 
  • Dalam penyelenggaran pelayanan bimbingan dan konseling, sekolah dan madarasah harus bekerja sama dengan berbagai pihak. 
  • Kepala sekolah merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaran bimbingan dan konseling dan sekolah.

Kamis, 13 September 2012

Wisata Kelelawar di Simpang Lima Sukoharjo

selamat sore para pembaca..
Jumpa lagi sama bang ipul yang masih dan tetap ganteng aja..hehehe(daripada gak ada yang memuji). kali ini abang mau berbagi cerita tentang daerah Sukoharjo.. Wah..ada apa lagi ini?? BOM kah?? teroris kah?? atau Korupsi kah?? bukan....kali ini abang ingin berbagi cerita tentang sebuah bangunan bersejarah di Sukoharjo yang jarang di ketahui oleh banyak orang dan mungkin orang sukoharjo sendiri mungkin saja tidak tahu sama apa yang mau abang bicarakan sekarang..

Pada postingan kali ini abang mengangkat cerita tentang bangunan tua bersejarah yang unik.. Uniknya dari bangunan ini bukan karena keindahan arsitekturnya tetapi karena penghuninya.. ya.. penghuni dari bangunan ini bukan manusia.. Wah..Hantu??? bukan.. lalu?? Hewan.. Loh..kok bisa hewan?? ya.. karena penghuninya ini adalah kelelawar yang jumlah nya ratusan bahkan sampai ribuan..

Kelelawar ini tinggal di sebuah bangunan tua tepat di sebelah barat Simpang Lima Sukoharjo,, kalau teman-teman mau ke Wonogiri melewati sukoharjo ada Tugu Adipura nah sebelah baratnya,, Kelelawar tersebut keluar setiap sore hari sekitar pukul 16.30-17.00wib.. kelelawar tersebut keluar berhamburan, kalau tidak diperhatikan dengan baik-baik, kelelawar tersebut seperti ribuan burung Walet atau burung Sriti..

Kalau teman-teman pengen melihat, silahkan mampir sore hari duduklah di pojokan dekat masjid alun-alun sukoharjo sambil memesan kopi dan pemandangan sore hari yang indah karena langitnya bakal di selimuti ribuan kelelawar yang keluar dari sebuah bangunan tua tersebut..


Tidak banyak yang tahu kalau bangunan tua tersebut, pada jaman dulunya merupakan pusat pemerintahan pemkab Sukoharjo yaitu prnah menjadi kantor Bupati.. yang kemudian dialih-fungsinkan sebagai kantor Dinas Pembangunan Umum (DPU), sayangnya..gedung ini tidak pernah direnovasi.. bangunan tua tersebut terkesan menyeramkan karena atap bangunan tersebut sudah banyak yang bolong-bolong dengan bau kotoran yang memang agak menyengat ketika didekati.. Menurut artikel yang abang liat di  Joglo semar(14/06/12) mengatakan bahwa bangunan tersebut didirikan pada tahun 1948 dengan tersisa 9 tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati yang masih asli sejak didirikannya bangunan tersebut..

Menurut abang sih,. bangunan ini memang harusnya di renovasi lah.. kalau gak mau ya dimasukan ke warisan budaya daerah sukoharjo sehingga dijadikan tempat wisata.. setuju???

Rabu, 12 September 2012

Semangat Generasi Muda dalam Melestarikan Kesenian Karawitan


Selamat malam para pembaca sekalian.. 
Sebenernya abang sudah lama mempunyai keninginan untuk memuat postingan ini, tetapi baru kesampaian sekarang. Mohon dimaklumi kesibukan kuliah memang membuat abang jarang untuk sekedar membuka blog saja.. Oke lanjut saja ya gak perlu panjang lebar tanpa perlu basa-basi lagi langsung ke intinya saja.. Pada postingan kali ini abang merasa sangat senang dengan adanya semangat dari para generasi muda saat ini yang sudah sadar untuk melestarikan budaya Indonesia yaitu karawitan yang berasal dari budaya Jawa.. 

Instrumen Gamelan dalam Karawitan
Karawitan merupakan sebuah karya seni yang berupa musik tradisional jawa, seperti musik klasik kesenian karawitan ini mempunyai instrumen khusus dan unik, beberapa instrumen tersebut dalam bahasa jawa disebut gamelan, instrumen gamelan terdiri dari beberapa alat yaitu antara lain gendhang, bonang barung, bonang penerus, saron, demung, balungan, siter, kecapi, kethuk-kempyang, kenong, gong, dan masih banyak lagi instrumen yang digunakan dalam karawitan (bilang aja abang lupa jenis-jenis gamelannya..hehe), semakin lengkap macam instrumen yang digunakan maka semakin indah lah suara yang dihasilkan.. 


Kesenian Karawitan biasa digunakan untuk mengiringi suatu pertunjukan misalnya digunakan untuk mengiringi seni tari, seni vokal, seni pedhalangan, dan sebagainya..  Karawitan ini terdiri dari laras slendro dan pelog, keduanya merupakan susunan nada yang digunakan untuk memainkan gamelan tersebut,, kalau dalam musik nya bethoven ada nada diatonis-pentatonis nah semacam itulah kiranya..(ternyata musik kita jaman dulu sudah mengenal nada semacam ini ya.. keren!).

“Neg ora awak e dewe sing nguri-uri, sopo meneh?”  

Pada kenyataan nya.. anak muda jaman sekarang, kebanyakan sih yang abang amati pada banyak yang gak suka kesenian karawitan. Kebanyakan dari mereka(anak muda) lebih suka sama musik-musik luar dan jarang sekali pada ngedengerin musik karawitan. Abang sih gak menyalahkan ya kalau misalnya mereka pada suka musik luar, asal selama tidak meninggalkan musik dalam negri apalagi ini kan musik kebudayaan kita sendiri, dan yang membuat abang agak berbangga dan juga bersedih itu pas ada pertunjukan wayang di kampus abang, ada bule yang bisa nyinden (vokal) dan di deket daerah abang ada beberapa orang dari jepang dan australia pada belajar karya seni kita.. gile aja tuh, bela-belain cari paspor tinggal di Indonesia dan belajar budaya kita.. Bangga gak tuh, harusnya bangga ya.. iya sih,, bangga lah siapa juga yang gak bangga kebudayaan kita terkanal sampai bule pun mau belajar kesenian kita, berarti enggak kalah tuh musik kita sama musiknya cristian bautista atau cristina perry..hehehe Cuma yang abang sayangkan itu generasi muda kitanya sendiri yang luar biasa sedikitnya yang mau belajar musik kita sendiri,, 

Pernah abang tanya kenapa mereka gak suka musik karawitan, lalu ada yang alasan musiknya sulit lah, musiknya orang jaman dulu lah, ada yang bilang musik nya terlalu slow lah, biayanya mahal lah dan banyak lagi alasan mereka buat lari dari pertanyaan abang.. Memang bener kalau mau belajar gamelan itu butuh biaya gak seberapa khususnya dalam pembelian instrumen karena harus se-paket gak kayak band bisa beli gitarnya aja maennya kalau di studio, kalau karawitan mah enggak ada studionya.. ada juga paling di sekolahan(pasti juga gak boleh kalau dipinjem buat maen juga..).
Generasi muda Desa Dayu yang sedang asik belajar memainkan instrumen gamelan balungan

Alhamdulilah.. akhirnya di desa Dayu kecamatan Weru kabupaten Sukoharjo, sekarang sudah tersedia fasilitas dan tempat bagi para generasi muda yang mau dan ikhlas belajar kesenian karawitan.. Abang turut bahagia akhirnya kesenian karawitan tidak hanya di dengar tetapi sekarang bisa dimainkan oleh generasi muda yang sadar akan kesenian karawitan.. Bagi teman-teman yang mau belajar, silahkan datang atau mampir untuk sekedar melihat para generasi muda kita yang belajar karawitan disana untuk jadwal latihan dilaksanakan setiap malam jumat bagi para pemuda yang latihan dan malam senin performance-nya,, bagi yang belum bisa tapi ingin mencoba belajar tidak perlu takut kesulitan cara memainkannya, karena di desa Dayu tersebut juga di bimbing oleh guru karawitan yang sudah ahli dalam bidangnya.. Pernah abang mendengar perkataan dari ketua pemuda di desa tersebut “Neg ora awak e dewe sing nguri-uri, sopo meneh?” (Kalau tidak kita yang melestarikannya, siapa lagi).  ya.. benar, karawitan memang budaya peninggalan nenek moyang kita,, Buktikan kalau kita 100% Indonesia..!!!!!  Ada yang berminat belajar???

Selasa, 11 September 2012

ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING

ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING

Menurut Ferdy Pantar  ( 2009 ) dalam blognya, penyelenggaran layanan dan kegiataan pendukung bimbingan dan konseling, selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, juga harus memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan / kegiatan, sedangkan pengingkarannya dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan, serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan / kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.

Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas ini dijalankan dengan tidak baik, penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.

Pelayanann bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan profesional, oleh sebab itu, harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kadah atau asas-asas tertentu. Dengan mengikuti kaidah-kaidah asas-asas tersebut diharapkan efektivitas dan efisiensi proses bimbingan dan konseling dapat tercapai.

Slameto (1986)  membagi asaas-asas  bimbingan Dan konseling menjadi dua bagian, yaitu (1) asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan individu (siswa) dan (2) asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan denagn praktik atau pekerjaan bimbingan.
1.      Asas­-asas bimbingan yang berhubungan dengan siswa

a. Tiap-tiap siswa mempunyai kebutuhan
Tiap-tiap siswa sebagai individu mempunyai kebutuhan yang berbeda baik jasmaniah (fisik) maupun rohaniah (psikis).
b. Ada perbedaan diantara siswa (asas perbedaan siswa)
Dalam teori individualitas ditegaskan bahwa tiap-tiap individu berbeda. Demikaian halnya siswa sebagai individu jelas mempunyai perbedaan.
c. Tiap-tiap individu (siswa) ingin menjadi dirinya sendiri
Relevan dengan asas perbedaan individu diatas, tiap-tiap individu ingin menjadi dirinya sendiri sesuai dengan ciri-ciri atau karakteristik pribadinya masing-masing.
d. Tiap-tiap individu (siswa) mempunyai dorongan untuk menjadi matang
Dalam tiap-tiap tahapan perkembangannya, setiap siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk menjadi matang,produktif,dan berdiri sendiri (mandiri).
e. Tiap-tiap siswa mempunyai masalah dan mempunyai dorongan untuk menyelesaikannya.
Tidak ada individu (siswa) yang tidak memiliki masalah. Mungkin tidak ada pula individu tidak ingin masalahnya terselesaikan. Apalagi individu (siswa) yang sedang dalam proses perkembangannya, pasti memiliki masalah.

2.      Asas yang berhubugan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan
Menurut Arifin dan Ety Kartkawati (1995) dan Prayitno dan Erman Amti (1999) asas yang berkenaan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan dan konseling adalah:
a. Asas kerahasiaan
Asas yang menentukan dirahasiakannya segenap data dan keterangan siswa ( klien ) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini,guru pembimbing ( konselor ) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar terjamin.
b. Asas kesukarelaan
Asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan siswa ( klien ) mengikuti / menjalani layanan / kegiatan yang diperuntukan baginya. Guru pembimbing ( konselor ) berkewajiban membina dan menggembangkan kesukarelaan seperti itu.
c. Asas keterbukaan
Asas yang menghendaki agar siswa ( klien ) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing ( konselor ) berkewajiban mengembangkan keterbukaan siswa ( klien ). Agar siswa ( klien ) mau terbuka, guru pembimbing ( konselor ) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan kesukarelaan.
d. Asas kegiatan
Asas yang menghendaki agar siswa ( klien ) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan / kegiatan bimbingan. Guru pembimbing ( konselor) harus mendorong dan memotivasi siswa untuk aktif dalam setiap layanan / kegiatan yang diberikan kepadanya.
e. Asas kemandirian
Asas yang menunjukan pada tujuan umum bimbingan dan konseling; yaitu siswa ( klien ) sebagai sasaran layanan / kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri. Guru pembimbing ( konselor ) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian siswa.
f. Asas kekinian
Asas yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling, yakni permasalah yang dihadapi siswa / klien adalah dalam kondisi sekarang. Adapun kondisi masa lampau dan masa depan dilihat keterkaitan dengan apa yang ada dan perbuat siswa ( klien ) pada saat sekarang.
g. Asas kedinamisan
Asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap layanan ( siswa/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak menoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan nya dari waktu ke waktu.
h. Asas keterpaduan
Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, seling menunjang, harmonis, dan terpadu. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.
i. Asas kenormatifan / Asas keharmonisan
Asas yang menghendaki agar seluruh layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Bahkan, lebih jauh lagi, layanan / kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan siswa ( klien ) dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan norma-norma tersebut.
j. Asas keahlian
Asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakaan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksanan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya merupakan tenaga yang benar-benar ahli dalam hal bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing ( konselor ) harus terwujud, baik dalam pnyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
k. Asas alih tangan kasus
Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan siswa ( klien ) dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing ( konselor ) dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing ( konselor ), dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.
l. Asas Tut Wuri Handayani
Asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi ( memberikan rasa aman ), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa ( klien ) untuk maju.
Kedua belas asas bimbingan dan konseling tersebut pada dasarnya menegaskan bahwa para konselor merupakan para ahli yang memiliki kemampuan untuk membimbing kliennya, baik secara ikhlas maupun profesional sehingga mereka mampu meningkatkan taraf kehidupannya yang lebih baik, terutama berkaitan dengan persoalan mentalitas klien, baik dalam mnghadapi lingkungannya maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.
DAFTAR PUSTAKA

Himawati , Fenti. 2010.Bimbingan konseling.jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
 Tohirin.2007. Bimbingan dan Konseling di sekolah dan madrasah berbasis integrasi. Jakarata:PT. Raja Grafindo Persada
Salahudin, Anas.2010.Bimbingan Konseling. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Senin, 03 September 2012

Evaluasi Pendidikan

Evaluasi berarti pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa. Evaluasi Pendidikan adalah kegitan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan. Bertujuan melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan informasi akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.
Evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai pengukuran atau penilaian hasil belajar-mengajar, padahal antara keduanya punya arti yang berbeda meskipun saling berhubungan. mengukur adalah membandingkan sesuatu dan satu ukuran (kuantitatif), sedangkan menilai berarti mengambil satu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (kualitatif). Adapun pengertian evaluasi meliputi keduanya.
Meskipun sekarang memiliki makna yang lebih luas, namun pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. seperti definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950) beliau mengatakan, bahwa evaluasi merupakan proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum ada dan apa sebabnya. Untuk definisi yang lebih luasdikemukakan oleh dua orang ahli lain yaitu Cronbach dan Stufflebeam, definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
Yang dibahas dalam buku ini terutama adalah evaluasi pendidikan dalam institusi pendidikan, tetapi mengkhususkan evaluasi hasil belajar. Dalam dunia pendidikan,khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi:
Makna bagi siswa
Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui apakah dia telah berhasil mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaan menilai ini ada dua kemungkinan, memuaskan atau tidak memuaskan.
b. Makna bagi guru
Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswayang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya pada siswayang belum berhasil. Apalagi jika guru tahu sebab-sebabnya.
c. Makna bagi sekolah
Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya,dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan sekolah sudah sesuai harapan atau belum, karena hasil belajar merupakan cermain kualitas suatu sekolah.
Sasaran evaluasi
1. Input
Input merupakan aspek yang bersifat rohani yang setidak-tidaknya mencakup empat hal yaitu: Kemampuan, Kepribadian, sikap dan inteligensi.
2. Transformasi
Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian meliputi: kurikulum atau materi, metode dan cara penilaian, sasaran pendidikan/media, sistem administrasi, guru dan personal lainnya.
3. Output
Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui sebeapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achievement test.
Prinsip dan Alat Evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat ketiga komponen yaitu antara tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran/KBM dan evaluasi.
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan lebih efektif dan efisien. Dengan pengertian tersebut maka alat evaluasi dapat dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi suatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara/tehnik, dan oleh karena itu dikenal dengan tehnik evaluasi. Ada dua tehnik dalam evaluasi, yaitu tehnik tes dan non tes.
Ciri-ciri tes yang baik
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memilki persyaratan tes, yaitu memiliki:
a. Validitas
Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
b. Reliabilitas
Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan.
c.Objektivitas
Sebuah dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d. Prakitikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah yang: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas.
e. Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

Jumat, 22 Juni 2012

Perbedaan Angka ISSN dan ISBN


Apa yang teman-teman ketahui mengenai ISSN dan ISBN?
Hm kalau boleh saya jujur saya sering melihat no seri tersebut, tapi untuk mengerti  benar saya tidak tahu. Tapi hari ini saya menemukan sesuatu fakta atau informasi terkait dengan No ISBN dan ISSN.

Pertama: Nama Terbitan berkala Kita 
Kedua: No seri ISSN
Ketiga: Penerbit.
Ya, ternyata ISSN itu diberikan tepatnya oleh Pusat Dokumentasi Dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Pusat Nasional ISDS (INTERNATIONAL SERIAL DATA SYSTEM) untuk Indonesia yang berpusat di Paris.

Angka  ISSN Majalah Kartini

Dan Ini no ISBN :
Angka. ISBN

Nah, selain ISSN terdapat pula ISBN (International Standard Book Number) atau terjemahannya adalah Angka Buku Standar Internasional.  Lalu apa perbedaan antara ISSN dan ISBN? 
Hmm Coba teman-teman perhatikan No seri dari ISSN dan Juga ISBN. Ya  terdapat beberapa perbedaan sebagai berikut:

Pertama: ISSN dikeluarkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, LIPI, sedangkan ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan nasional. (boleh melihatnya di wikipedia sebagai referensi).
Kedua    :  ISSN terdiri dari 8 digit, sedangkan ISBN terdiri dari 12 digit.
Ketiga    : ISSN untuk Majalah, sedangkan ISBN untuk  Buku...

Seperti itulah kira-kira perbedaannya. 
Nah, kembali lagi ke ISSN. Lantas adakah persyaratan setelah memperoleh ISSN? tentu ada..ini khususnya untuk penerbit, diantaranya :
  1. Mencantumkan ISSN di pojok kanan atas pada halaman kulit muka, halaman judul, dan halaman daftar isi dari terbitan berkala dengan diawali tulisan ISSN.
  2. Mencantumkan Barcode ISSN di pojok kanan bawah pada halaman kulit belakang untuk terbitan ilmiah. Sedangkan untuk terbitan hiburan atau populer di pojok kiri bawah pada halaman kulit muka.
  3. Mengirimkan terbitannya sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar setiap kali terbit ke PDII-LIPI, sebagai dokumentasi nasional untuk kepentingan pembuatan Indeks Majalah Ilmiah Indonesia dan koneksi di perpustakaan LIPI.
  4. Segera melaporkan ke PDII-LIPI apabila judul terbitan diganti, karena bila terbitan berganti judul harus mendapatkan ISSN baru.
Untuk pengajuan ISBN dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1.  Membuat surat permohonan kepada Penerbit ISBN d/a Perpustakaan Nasional, dst. dengan menyebutkan judul dan nama penerbit buku tsb. Surat tsb ditandatangani oleh Pejabat yang berwenang di PDAT sebagai penanggung jawab / penerbit utama yang menerbitan buku tsb.
  2. Surat permohonan itu dilengkapi dengan beberapa lampiran mengenai buku yang akan dibuatkan ISBN-nya, sbb. :
    a. Halaman muka/ sampul ( cover ).
    b. Halaman 1/2 judul
    c. Halaman Judul
    d. Halaman colofoon –> yang memuat otoritas/ copyright/hak cipta tentang buku ybs.
    e. Daftar Isi.
    f. Halaman Kata Pengantar
    g. Halaman Isi ( kalau ada)
    h. Keterangan lain kalau ada seperti : hlm indeks, dua bahasa, foto, layout dalam, dlsb.
  3. Bila ada kerjasama antara 2 Penerbit (Tempo dan pihak lain ), maka harus dipastikan siapa penerbit utama dan pihak lain yang diajak bekerjasama. Penerbit utama
    kemudian mengajukan surat permohonan kepada Penerbit ISBN. Posisi logo kedua penerbit itu lazimnya dicantumkan di sampul / halaman muka ( cover ) dan halaman judul. Informasi tentang nama penerbit utama akan menjadi dasar bagi Penerbit ISBN dalam kaitannya dengan administrasi pembuatan ISBN / Barcode dan KDT.
  4. Biaya untuk setiap nomor ISBN yang dimohonkan s/d akhir tahun 2008 adalah sebesar Rp. 25.000,- ( Dua Puluh Lima Ribu Rupiah).
  5. Seringkali karena ketidaktahuan akan prosedur dan pembuatan ISBN / Barcode dan KDT, pemohon nomor ISBN tidak melengkapi informasi mengenai bukunya sendiri sehingga menghambat proses pembuatan ISBN.
Sekarang ini pendaptaran ISSN dan ISBN sudah dapat dilakukan secara online. Untuk ISBN anda dapat mengakses website Perpusnas RI dan untuk pengurusan ISSN dapat mengakses website PDII-LIPI .
 
Mendapatkan sebuah ISSN berarti sebuah awal yang bagus, bahwa kerja kita ada yang memperhatikan, menghargai. dan tentunya memberikan manfaat atau kontribusi untuk lingkup yang lebih besar lagi. Semoga semua Tim bisa bekerja dengan penuh semangat untuk memajukan Majalah. Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai ISSN dan ISBN.
thanks :

Spesifikasi Polytron Wizard W2400


’’Dengan fitur-fitur lainnya seperti GPS, blueetooth, WiFi, dan proximity sensor, Wizard W2400 merupakan smartphone dengan fasilitas lengkap serta bisa menjalankan semua aplikasi dengan cepat,” terang Santo

Terus melejitnya pamor Android (faktanya 900.000 unit ponsel dijual tiap hari) membuat perusahaan seperti Polytron, Hyundai dll ramai-ramai ikut nimbrung pada bisnis ponsel pintar ini. Baru-baru ini Polytron kembali meluncurkan seri ponsel Android terbarunya dengan nama Polytron Wizard W2400.
Kali ini Polytron nampaknya tidak bermain-main dengan mengupgrade habis spesifikasi Wizard W2400, berbekal prosesor Qualcomm 1 Ghz membuat Wizard W2400 sangat lancar menjalankan berbagai macam aplikasi dan game. Wizard W2400 pun dibekali layar berteknologi IPS (In-Plane Switching) sebesar 4 inchi. In-Plane Switching merupakan teknologi layar yang dikembangkan oleh Hitachi (Sumber).

’’Dengan fitur-fitur lainnya seperti GPS, blueetooth, WiFi, dan proximity sensor, Wizard W2400 merupakan smartphone dengan fasilitas lengkap serta bisa menjalankan semua aplikasi dengan cepat,” terang Santo Kadarusman, public relations & marketing event manager PT Hartono Istana Teknologi dikutip ponselsedunia dari radarlampung.
Wizard W2400 memiliki kamera 5 Mp di bagian belakang dan 0.3 Mp kamera depannya. Ditambah fitur-fitur wajib smartphone antara lain GPS, Blueetooth, WiFi, proximity sensor. Kesemua fasilitas ini merupakan standar sebuah ponsel pintar, lalu apa kelebihan dari Wizard W2400?
Kelebihan Polytron Wizard W2400 :
  • Merupakan produk asli Indonesia, jika kita membelinya berarti kita ikut membantu perkembangan teknologi Indonesia
  • Dual-SIM, Ciri khas ponsel lokal adalah fitur dual simnya.
  • Murah. Dengan berbagai fitur mumpuni Polytron dapat menyajikan ponsel Android murah berkualitas.
Harga Polytron Wizard W2400 : Rp. 1.800.000,-

Thanks : Ponseldunia.com

Air Susu Ibu (ASI) Dapat Mencegah Penularan Virus HIV

Banyak orang tidak bisa membedakan antara HIV dan AIDS, padahal keduanya tidaklah sama namun merupakan hubungan sebab akibat. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus penyebab timbulnya penyakit AIDS. Virus HIV menyerang sistem imun tubuh manusia sehingga menyebabkan tubuh manusia penderita AIDS akan rentan terhadap segala jenis penyakit dan infeksi sekecil apapun infeksi dan penyakit tersebut, bahkan infulenza sekalipun akan menjadi sangat berbahaya bagi orang yang terjangkit HIV. Penyakit yang katanya dapat ditularkan melalui ASI (baca:wikipedia) ternyata sebaliknya ASI tersebut lah justru yg dapat membantu membunuh Virus HIV.
Penelitian terbaru dari University of North Carolina School of Medicine mendapati bahwa terhadap uji coba di tubuh tikus, pemberian ASI kepada bayi justru mencegah penularan HIV. ASI memiliki efek kuat membunuh virus HIV, dan pada saat bersamaan mencegah transmisi oral HIV dari ibu ke bayi.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa ASI memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam hal penghancuran virus HIV dan mencegahnya bertransmisi,” kata J. Victor Garcia, salah seorang peneliti.
 Tim Garcia mempelopori model tikus yang diimplan sumsum tulang belakang, hati, dan jaringan timus manusia. Tikus ini tidak memiliki sistem imun sendiri.
Lalu tikus yang diimplan tadi membangun sistem imun manusia yang berfungsi normal dan bisa terpapar HIV seperti manusia normal.
Para peneliti kemudian memberikan ASI dari ibu yang negatif HIV kepada tikus tersebut, dan hasilnya virus itu tidak menular ke si tikus.
“Ini karena ASI bisa menolak sepenuhnya transmisi dua bentuk HIV yang ditemukan di ASI ibu positif  HIV, yaitu partikel virus dan sel-sel yang terinfeksi virus,” kata Garcia seperti dikutip dari ScienceDaily.
Temuan ini membantah hipotesis yang menyebutkan bahwa HIV yang terdapat di sel-sel tubuh akan lebih sulit dibunuh oleh sel imun daripada HIV yang berada di partikel virus, tambah dia.
Dengan hasil ini, para peneliti meyakini bahwa pemberian ASI bukan hanya merupakan asupan nutrisi yang terbaik bagi bayi tapi juga upaya pencegahan penularan HIV yang sangat prospektif.
antaranews.
Tentu kita semua mengingat pesan-Nya dalam surat Al-Baqoroh:233, tentang para ibu yang diperintahkan untuk menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Mari kita jalankan perintah-Nya agar kelak anak-anak kita dapat menjadi generasi cerdas, sehat dan kuat. Aamiin.
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (Al-Baqoroh:233)

kutipan : explore.com

Kamis, 14 Juni 2012

Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling Bag.3

SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdapat hal-hal yang substansial, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling adalah :

1. Istilah “bimbingan dan penyuluhan” secara resmi diganti menjadi “bimbingan dan konseling.”  

2. Pelaksana bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru.  

3. Guru yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling adalah mereka yang berkemampuan melaksanakan kegiatan tersebut; minimum mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam.  

4. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas : a. Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas-asasnya. b. Bidang bimbingan : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir c. Jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.d. Kegiatan pendukung : instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus. Unsur-unsur di atas (nomor 4) membentuk apa yang kemudian disebut “BK Pola-17” 


5. Setiap kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap :a. Perencanaan kegiatanb. Pelaksanaan kegiatanc. Penilaian hasil kegiatand. Analisis hasil penilaiane. Tindak lanjut 

6. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah.  

Hal-hal yang substansial di atas diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung sebelumnya. Langkah konkrit diupayakan seperti :
  1. Pengangkatan guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling. 
  2. Penataran guru-guru pembimbing tingkat nasional, regional dan lokal mulai dilaksanakan.
  3. Penyususnan pedoman kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti :a. Buku teks bimbingan dan konselingb. Buku panduan pelaksanaan menyeluruh bimbingan dan konseling di sekolah c. Panduan penyusunan program bimbingan dan konselingd. Panduan penilaian hasil layanan bimbingan dan konselinge. Panduan pengelolaan bimbingan dan konseling di sekolah 
  4. Pengembangan instrumen bimbingan dan konseling 
  5. Penyusunan pedoman Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) Dengan SK Mendikbud No 025/1995 khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling sekarang menjadi jelas : istilah yang digunakan bimbingan dan konseling, pelaksananya guru pembimbing atau guru yang sudah mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam, kegiatannya dengan BK Pola-17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis penilaian dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan bisa di dalam dan luar jam kerja. Peningkatan profesionalisme guru pembimbing melalui Musyawarah Guru Pembimbing, dan guru pembimbing juga bisa mendapatkan buku teks dan buku panduan.
Terimakasih : noorholic
Ada kesalahan di dalam gadget ini